Tenggelam'kan Saja Yang Masukan Guru ke Penjara, Hanya karena Tidak Boleh Tegas

Jika mendengar kata Susi, bisa dibilang hanya akan ingat pada dua sosok nama yang sering di bicarakan di depan layar kaca maupun media apapun. Ya, Susi similikiti weleh-weleh istri Tukul Arwana dan Ibu Susi Pujiastuti Menteri Kelautan.

Dalam dunia pendidikan yang akhir-akhir ini semakin menggelora, menggelora karena banyak kasus-kasus tindak azaz-azaz kesopanan. Baik itu dilakukan oleh murid maupun si orang tua murid itu sendiri.

Seperti yang kita tahu dan pasti sering membaca di surat kabar, baik itu elektronik maupun apa lah terserah, mendengar se'orang Ibu guru yang di penjara karena berurusan dengan sang murid.

Berurusan bukan karena masalah hutang-piutang, atau pun si murid telat bayar SPP. Tapi karena guru tersebut mencubit siswi'nya itu...... (katanya).

Si orang tua siswi yang notabene adalah aparat (polisi) langsung tidak sungkan tancap gas "mengantarkan" si Ibu guru malang tadi ke bilik derita.

Apa yang sebenarnya terjadi? apa betul hanya karena di cubit langsung masuk penjara?? 

Menurut media-media selama ini, Ibu itu mencubit bukan tanpa alasan, bukan juga karena gemas melihat anak didik'nya yang lucu-lucu, tapi karena sebuah peristiwa saat akan melaksanakan Sholat Duha.

Si Ibu tersiram air bekas pel dan si ibu membawa "pelaksana penyiraman" ke ruang BK. Nah di situlah seperti yang media-media ceritakan,,, 

Lupakan lah kasus itu, yang penting Alhamdulillah sudah damai dan Guru tersebut bisa keluar dari bilik besi'nya.....

Ada lagi nih yang lebih "somplak" salah satu kasus....... yah bisa dibilang "kampreters" banget dah....

Murid di cukur guru karena gondrong, eh malah si Ortu balik cukur itu guru.... dan dilaporkan ke polisi.

Ini kalau jaman dahulu, kasus pencukuran oleh guru akan menjadi dambaan para orang tua, karena bisa menghemat biaya potong rambut anaknya. Kan lumayan,, sang ortu juga pasti sangat berterima kasih telah memperhatikan kedisiplinan anaknya.

Ada yang lebih parah lagi,, ini masih masalah cukur-mencukur. Namun kali ini berbeda, yang pertama tadi Bapak guru, kali ini menimpa ibu guru yang notabene memakai hijab dicukur "paksa" sehingga rambut panjangnya melayang sudah.

Seperti biasa, ini bermula saat pihak sekolah akan menegakkan kedisiplinan bagi siswa-siswi'nya. Tapi ternyata guru honorer itu,, (kasian, udah honor gaji tak seberapa dicukur paksa pula) yang diberi mandat untuk menegakkan kedisplinan akhirnya berurusan panjang,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,, 

Jika kita melihat kasus-kasus diatas? apa yang bisa Anda rasakan sebagai pendidik?
  1. Muak?
  2. Marah?
  3. Ketawa?
Pastinya marah dan sangat disayangkan akan kejadian itu. Kenapa sekarang begitu berubah 180 derajat dari masa lalu. Yang guru digadang-gadang, di "ajeni" (dihormati) menjadi seperti tak berharga seperti itu.



Rasanya guru sudah tidak lagi mempunyai kekuatan untuk mendongkrak kedudukannya untuk di segani. Baik oleh siswa maupun orang tuanya.

Rasanya ingin seperti dulu lagi, atau seperti ibu Susi pujiastuti yang selalu berani menenggelamkan siapapun yang berani menginjak-injak kedaulatan negara.

Jika Bu Susi Adalah Guruku
Ilustrasi
Begitu juga seharusnya persatuan guru Indonesia harus berani membela guru tersebut jika memang benar. Menegakkan kedisiplinan untuk membuat anak didik pintar dan berakhlak.

Subscribe to receive free email updates: