Aku Rindu Ketegasan Guru Pada Sebilah Bambu

Indonesia, negeri merdeka yang berdiri berdaulat dengan darah dan air mata penuh perjuangan tak lepas dari rasa jiwa yang berapi-api untuk merebut kemerdekaan dari kaum penjajah.

Karakter bangsa Indonesia yang santun ramah tamah sudah sangat melanglang buana terkenal'nya di ujung dunia ini. Namun dibalik semua itu, karakter rakyat Indonesia bisa diartikan seperti kerbau. Jika tak mau di usik, janganlah pernah mengusik terlebih dahulu.

Aku Rindu Ketegasan Guru Pada Sebilah Bambu
Ilustrasi

Karakter rakyat Indonesia sudah tertanam keras, tegas dan berani sejak dahulu kala. Pendidikan yang tegas merupakan cikal bakal rakyat Indonesia menjadi salah satu ciri khas bangsa.

pasukan bambu runcing
source of Google.com

Namun ingat, tegas keras, bukan berarti kekerasan. Salah satu program pemerintah meluncurkan SRA (Sekolah Ramah Anak) menjadi indikasi untuk melakukan perubahan.

Download Materi Sekolah Ramah Anak dari Kemendikbud dibawah


Trend meningkatnya kekerasan di Sekolah menyulut kegelisahan para penggiat perlindungan anak baik secara personal maupun secara kelembagaan. Tidak terkecuali Komisi Perlidungan Anak Indonesia (KPAI). 

Lembaga Negara independent yang memiliki tugas pokok mengefektifkan perlindungan anak ini terus berupaya agar kekerasan anak di sekolah dapat dieliminer, diantaranya mendorong terwujudnya Sekolah Ramah Anak (SRA) yang telah digagas oleh berbagai pihak.

Sebagai salah satu upaya mendorong  Sekolah Ramah Anak itu, pada Kamis 23 Januari 2014 KPAI kembali menggelar Fokus Group Diskusi dengan tema  “ Pendisipilinan Di Sekolah tanpa Kekerasan “. Acara yang digelar di lt 3 KPAI yang berlokasi di area ring satu ( Jl. Teuku Umur No. 10-12) Menteng Jakarta Pusat itu dihadiri oleh berbagai pihak terkait Perlindungan Anak. 


UPDATE !!
GURU PENERIMA TUNJANGAN FUNGSIONAL/INSENTIF Non PNS

Peran sekolah, terutama Kepala Sekolah dan Guru, sangat penting untuk menerapkan SRA. Namun demikian, rancangan SRA harus berangkat dari kebutuhan anak (siswa-siswi). 

Peserta didik bukan obyek, melainkan menjadi subyek pendidikan, yang akan mendapat pelayanan SRA. Kendalanya belum semua Sekolah/guru bisa melakukan itu, karena dianggap bisa mengurangi kewibawaan guru.  

Subscribe to receive free email updates: